Arjuna akhirnya menggenggam ijazah sarjana seni rupanya. Namun, kelulusan itu terasa hampa. Kota tempatnya menimba ilmu telah menjadi museum kenangan raksasa. Setiap sudut jalan, setiap pohon rindang, bahkan aroma hujan di sore hari, semuanya beresonansi dengan gema tawa Jeni. Baginya, untuk bisa benar-benar bernapas lagi, ia harus pergi.
Sebuah tawaran pekerjaan dari sebuah LSM datang seperti jawaban atas doa sunyinya. Proyek restorasi dan pembuatan mural di sebuah desa wisata di pedalaman Sumatera Barat. Tanpa berpikir dua kali, Arjuna mengemas kanvas, kuas, dan sisa hatinya, lalu melintasi pulau. Ia merantau, bukan untuk mencari kekayaan, tetapi untuk kehilangan dirinya sendiri agar bisa menemukan kembali kepingan jiwa yang baru.
Desa itu dikelilingi perbukitan hijau yang bermandikan kabut pagi. Udara di sana beraroma tanah basah, kopi, dan ketenangan. Arjuna menyibukkan diri. Siang hari ia habiskan memanjat perancah, menorehkan cat pada dinding-dinding bangunan tua, melukiskan sejarah dan legenda setempat. Malamnya, ia akan duduk di beranda rumah panggung sederhana yang disewanya, menatap bintang yang tampak lebih terang tanpa polusi cahaya kota, sambil mencoba mengabaikan kekosongan di sampingnya.
Di sanalah ia bertemu Sulastri.
Sulastri adalah guru di satu-satunya sekolah dasar di desa itu. Pertemuan mereka tidak dramatis. Suatu sore yang terik, saat Arjuna sedang beristirahat di bawah pohon, Sulastri menghampirinya, membawa dua gelas es teh manis.
"Istirahat dulu, Da," sapanya dengan logat Minang yang kental dan lembut. "Langit tidak akan lari walau lukisannya ditunda sebentar."
Arjuna tertegun sejenak. Sulastri tidak seperti Jeni. Jika Jeni adalah bunga mawar di taman kota yang mekar dengan cemerlang, maka Sulastri adalah bunga kopi di lereng bukit; sederhana, wangi, dan menenangkan. Kulitnya sawo matang, matanya memancarkan kehangatan, dan senyumnya tidak meledak-ledak, melainkan mekar perlahan seperti fajar.
Mereka mulai sering berbincang. Sulastri akan bercerita tentang murid-muridnya, tentang tradisi desa, dan tentang filosofi di balik setiap ukiran di Rumah Gadang. Ia tidak pernah bertanya tentang masa lalu Arjuna, namun tatapan matanya seolah mengerti bahwa pria di hadapannya membawa beban yang berat.
Arjuna, untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, merasa dilihat bukan sebagai seniman atau pria yang berduka, melainkan hanya sebagai Arjuna.
Suatu hari, saat sedang mengerjakan mural di dinding sekolah, Arjuna tanpa sadar melukis sketsa wajah seorang wanita di sudut kanvas kecilnya. Wajah Jeni. Sulastri yang kebetulan lewat, berhenti dan memperhatikannya.
"Dia cantik," ujar Sulastri pelan, tanpa nada menghakimi. "Pasti orang yang sangat istimewa."
Arjuna membeku. Ia bersiap untuk merasakan kembali tusukan duka yang familiar. Namun, yang terjadi justru sebaliknya. Untuk pertama kalinya, ia menceritakan semuanya. Tentang Jeni, tentang mimpi mereka, tentang tanggal 19 Maret, dan tentang pandemi yang merenggut segalanya. Ia bercerita dengan suara yang bergetar, dan Sulastri mendengarkan dalam diam, matanya berkaca-kaca penuh empati.
Setelah Arjuna selesai, Sulastri tidak mengucapkan kata-kata klise seperti "sabar" atau "lupakanlah". Ia hanya berkata, "Beberapa orang ditakdirkan menjadi kenangan yang indah. Bukan untuk dilupakan, tapi untuk disimpan di tempat terhangat di hati, sebagai pengingat bahwa kita pernah begitu dicintai."
Kalimat itu meruntuhkan dinding terakhir di hati Arjuna.
Hubungan mereka tidak terjalin dalam semalam. Ia tumbuh perlahan, sealami kabut yang turun dari puncak bukit. Dimulai dari segelas teh di sore hari, berlanjut dengan berjalan-jalan di pematang sawah, hingga berbagi keheningan sambil menatap senja. Arjuna menyadari, bersama Sulastri, ia tidak melupakan Jeni. Justru sebaliknya, Sulastri membantunya menata kenangan itu di tempat yang semestinya.